WANITA TERLUKA AKIBAT ABORSI

Peneliti pro-aborsi akan melakukan segala upaya untuk menutupi  bahaya psikologis yang disebabkan oleh aborsi. Namun, semakin hari semakin banyak pembuktian dan penelitian yang dilakukan yang mengindikasikan bahwa aborsi merupakan kasus yang amat serius dan traumatis dalam kehidupan seorang wanita yang menyebabkan konsekuensi psikologis untuk waktu yang cukup lama.

Apakah aborsi melukai wanita?  Ya, dibawah ini adalah kesaksian mereka.

 

SETELAH ABORSI :  WANITA MENCERITAKAN KEPADA KITA.

 

JOSIE

Adalah seorang pemenang dari acara realitas Big Brother versi Inggris, membuka diri mengenai aborsi yang dilakukannya enam tahun yang lalu, bagaimana dia merasa sangat hancur setelah pacarnya memaksa dia untuk mengakhiri kandungannya yang berusia 3 bulan. Dia mengingatkan untuk “jangan pernah melakukan aborsi demi pria manapun juga.”  Josie yang sekarang berumur 26 tahun mengakui, “Saya menyesali perbuatan saya semenjak saat itu.”  “Saya menangis berjam-jam.  Saya tahu apa yang saya lakukan adalah suatu kesalahan besar,” ia mengatakan.

 

SHARON OSBOURNE

“Setiap orang memiliki masa kelam dalam hidupnya, dan saya rasa hal yang terbaik adalah selalu bersikap jujur, setelahnya hal itu tidak akan menghantuimu,” ia mengatakan. Dan ia sendirilah yang akan bertanggung jawab atas “kesalahan besar” nya sendiri. Kesalahan utama yang paling disesalinya adalah, “Saya melakukan aborsi pada usia 17 dan itu adalah hal terburuk yang pernah saya lakukan.  Pertama kalinya saya melakukan hubungan seksual, dan itu sangatlah buruk. Saya mengira pengalaman itu adalah suatu hal yang indah, dan ternyata sangatlah buruk.”

“Setelah dua bulan berlalu dan ketika saya menyadarinya, saya mengatakan kepada ibu saya, dan tanpa ragu sedikitpun ibu saya berkata : ‘Kamu harus melenyapkannya saat ini juga.’ “Dia memberitahu saya ke klinik mana saya harus pergi, dan sepertinya dia berusaha untuk menyingkirkan saya. Dia betul-betul sangat marah. Dia bilang saya yang membuat kekacauan ini dan sekarang dia yang harus membereskannya.”

“Tetapi ibu saya tidak datang. Saya pergi sendiri ke klinik. Saya sangat ketakutan.  Disana penuh dengan wanita muda lainnya dan kami semua ketakutan dan saling berpandangan satu sama lain dan tidak seorangpun saling mengumpat kepada yang lain. Saya melolong kesakitan dan hal itu sangat mengerikan.”

“Saya tidak akan pernah merekomendasikan seseorang untuk melakukan aborsi, karena hal itu akan menghantui dirinya. Setiap kali saya berusaha untuk punya anak, saya keguguran tiga kali saya pikir itu disebabkan karena sesuatu telah terjadi pada cervix saya saat melakukan aborsi.  Setelah keguguran yang ketiga kalinya, mereka harus menempatkan jahitan didalamnya.”

“Dalam kehidupan, apapun itu, anda pasti harus menebusnya suatu saat nanti.  Pastikan hal itu berharga bagimu.”

Sumber : kutipan dari Sharon : The rock of the Osbournes unexpurgated

 

 

CHILI (TLC)

Rozonda Ocelean Thomas lebih dikenal dengan nama panggungnya Chili, adalah penyanyi R&B Amerika dan aktris yang terkenal sebagai salah satu dari tiga wanita R&B TLC grup. Dia diwawancara pada kantor berita Dallas Austin of Hip Hop dimana dia mendiskusikan kesedihan yang dialaminya setelah mengaborsi anak yang dikandungnya.

http://www.youtube.com/watch?v=k0qrFrtlIIc

 

 

JENNIFER

Mantan model “Cover Girl” dan aktris, Jennifer O’Neill, memberikan kesaksiannya mengenai sakitnya aborsi.  Dia mengatakan, “Saya melakukan aborsi dan membayar akibatnya seumur hidup saya.”

 

 

 

 

SESEORANG DARI KERRY

“Saya tidak dapat bangun dari tempat tidur, tidak mandi, tidak bekerja, hal-hal seperti itu.  Saya tidak peduli. Saya merasakan seperti kebohongan diatas kebohongan-kebohongan lainnya.”

Itu adalah perkataan dari seorang wanita berusia 24 tahun dari Tralee yang pergi ke Liverpool di bulan Maret 2010 untuk melakukan aborsi.

Si wanita, yang meminta namanya jangan disebut karena keluarganya tidak tahu akan aborsi yang dilakukannya, mengatakan kepada The Kerryman mengenai pengalamannya dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya setelah mengakhiri masa kehamilannya.

 

MAE

“Saya diberitahu bahwa ini akan selesai dalam waktu 8 menit dan saya hanya akan merasakan sedikit kurang nyaman setelahnya. (mereka berbohong, ternyata hal itu menghancurkan hidup saya selama 10 tahun). Operasi (mereka mengatakannya seperti itu). Mereka menaruh kita diatas usungan dan kemudian ditaruh seperti ternak diatas ban berjalan.  Sangat menyedihkan.  Mereka tidak pernah menjelaskan mengenai prosedurnya atau mengijinkan saya melihat bayinya. Mereka tidak memberikan alternatif dan tidak pernah mengatakan bahwa membunuh bayi akan mempengaruhi hidup saya secara emosional.”

 

MARGARET

“Saya merasa panik. Mengetahui bahwa segalanya sudah terlambat. Apa yang saya lakukan? Manusia macam apa yang dapat melakukan hal seperti ini? Saya hanya ingin seperti sebelumnya, tolong saya, Tuhan. Terobsesi rasa ingin tahu berapa umur anak saya nantinya – seperti apa rupanya, apakah ia mau memaafkan saya. Rasa benci akan diri saya sendiri karena lemah. Marah kepada pacar saya karena tidak mau menjadi penyelamat saya dan mengatakan bahwa “semuanya akan beres. Aku mencintaimu, aku akan mencintai bayi ini dan bersama kita akan membuat semuanya baik.

Sekarang, saya seringkali menangis dan tangan saya terasa kelu karena kerinduan untuk memeluk anak saya, akhirnya saya memeluk boneka beruang hanya untuk saya bisa merasakan sesuatu dalam pelukan saya. Aborsi bisa mengambil bayimu dari tubuhmu tetapi tidak pernah bisa dari hatimu.”

 

LISA

“Yang sangat menolong saya adalah, mencari wajah Jesus melalui Firman Nya dan Dia yang telah merubah kesedihan saya menjadi sukacita. Tolong dimengerti, bahwa dengan mengaborsi anak yang dikandung, tidaklah berarti dapat membuat anakmu pergi.  Bayimu akan selalu berada dihatimu selamanya. Setelah aborsi – rasa bersalah dan malu dan kesendirian adalah mengerikan. Sekali kamu melakukan aborsi, kamu tidak akan pernah bisa kembali dan merubahnya.”

 

STEPHANIE

“Saya bisa men-sharingkan bahwa akibat dari aborsi menjadikan saya sulit untuk bisa hamil atau melahirkan. Sekarang dalam usia 39, suami saya dan saya masih terus berharap bahwa suatu hari nanti kami akan mempunyai anak. Saya ingat ketika tersadar dari pengaruh obat bius dan masih dalam kesakitan, dan sering mengalami keram cukup parah. Saya mengerang karena rasa yang tidak nyaman dan perawat bolak balik menyuruh saya untuk diam.

Rasa sakit yang sangat amat membuat saya mulai muntah. Saya merasa dibohongi karena tidak diberitahu akan kebenaran arti suatu aborsi untuk kehidupan bayi yang dikandung. Saya tidak diberitahu bahwa ternyata ada pilihan lain. Saya tidak diberitahu bahwa dalam usia kandungan 10 minggu (saat saya melakukan aborsi) anak saya sudah terbentuk secara penuh. Saya dibuat percaya bahwa yang saya lakukan adalah hal yang biasa seperti pergi ke dokter gigi untuk membersihkan gigi.

Tetapi akan ada saatnya nanti anda akan menyesali diri, karena tidak tahu akan betapa bahagianya untuk membesarkan seorang anak. Anda akan selalu diingatkan, akan menjadi seperti apakah anak anda nantinya.”

 

MICHAELENE

“Aborsi sepertinya hanya satu-satunya jawaban. Di klinik, saya diberitahu bahwa prosedurnya akan cepat dan aman, membuat saya bisa melakukan aktivitas sehari-hari esoknya.  Saya melihat kepada perawat dan mengatakan kepada dia, saya rasa saya tidak dapat melakukannya. Dia memegang tangan saya, dan mengatakan bahwa semuanya akan berakhir hanya dalam beberapa menit saja. Sebelum saya dapat menjawab, mesin penyedot dinyalakan, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Saya sangat ketakutan, dan kesakitan. Saya ingin berteriak.

Saya ingin menghentikannya. Saya tersadar ada bayi didalamnya. Mereka membunuh bayi saya! Berjalan tertatih ke ruang pemulihan saya merasa mual, lemah dan kalah. Saya tidak berhenti menangis dan juga wanita-wanita lainnya di ruang itu. Kehidupan saya tidak dapat diubah saat itu. Saya menangis setiap hari dan setiap minggu – bahkan bertahun-tahun kemudian. Saya merasa kotor, merasa bersalah, merasa tidak berguna untuk hidup. Saya bisa saja mati di meja operasi dan kemungkinannya lebih kecil untuk memiliki seorang anak di kemudian hari.

Biasanya saya akan berakhir dengan menangis disudut ruangan, takut akan kemungkinan saya menjadi gila. Hal itu memuncak hingga suatu malam saya memotong nadi di pergelangan tangan saya dengan pecahan piring. Tindakan putus asa ini menyebabkan saya untuk mencari pertolongan. Melalui konseling, saya dapat melepaskan kemarahan saya dan menerima pengampunan yang Yesus tawarkan. Berbulan-bulan setelahnya, saya bisa memaafkan diri saya sendiri dan mulai merasakan kedukaan akibat kehilangan anak.”

 

STACEY (New Zealand)

Nama saya Stacey. Umur saya 37 tahun. Di bulan Juni 2003, saya melakukan aborsi sebagai saran dari dokter saya, karena kondisi kesehatan saya. Sekarang saya merasa begitu hancur, karena setelah saya melakukan penelitian melalui internet, saya menemukan bahwa kondisi kesehatan saya saat itu sebenarnya bisa ditangani. Dan terlebih lagi, mereka mengikat saluran indung telur saya, sewaktu di operasi.  Sekarang saya menderita akibat rasa bersalah yang amat sangat dan saya seringkali menangis. Saya ingin bayi saya kembali, dan saya tidak tahu bagaimana caranya untuk menghilangkan perasaan saya yang seperti berada di dalam lubang dan saya tidak bisa keluar.

 

VICKI COOPER (England)

Saya tidak bisa membicarakan pengalaman orang lain yang terjadi di kilinik aborsi, tetapi secara jujur saya bisa mengatakan, apa yang saya alami sungguh mengerikan.

Disana ada 20 wanita, semuanya dimasukkan ke satu ruangan dimana kami disuruh duduk dan menunggu. Seluruh ruangan berwarna putih, mengingatkan saya akan rumah sakit jiwa. Kami harus duduk dan membaca majalah wanita yang sudah usang sampai saatnya kami dipanggil untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai kesehatan kami dan kami diberikan cervix softening pessaries.

Dan baunya, ya Tuhan, saya tidak akan pernah dapat melupakannya.  Indera penciuman saya meningkat, saya merasakannya selama masa kandungan saya (saat itu memasuki masa 13 ½ minggu) yang menyebabkan semuanya bertambah parah. Semuanya serba kimia dan memuakkan.

Tidak ada seorangpun yang menanyakan ‘apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu yakin mau meneruskan hal ini?’  Beberapa perawat mendekat. Salah satu dari mereka bahkan mengatakan dia mempunyai ovarian failure yang dikatakannya seperti ‘saya tidak bisa punya anak dan lihat kalian malah membunuh milik kalian.’

Bagaikan deretan dari suatu produksi, dioperkan dari satu orang ke yang lain, berakhir dengan didorong ke ruang operasi dimana saya dibuat pingsan. Saya tidak diperlakukan sebagai manusia yang sedang mengalami puncak emosi tertinggi dalam hidupnya, tetapi diperlakukan sebagai seorang anak perempuan yang  bermasalah. Pengalaman ini memberikan warna dalam bagaimana perasaan saya mengenai aborsi. Saya tetap merasa seperti telah melakukan sesuatu yang mengerikan dan keliru karena saya juga diperlakukan seperti itu.

Setelahnya, ada 3 tingkatan pemulihan sebelum saya diijinkan pulang. Pertama, saya duduk di bak diatas kereta dorong dan diberikan beberapa gelas air (karena yang saya punya adalah yang biasa, saya tidak diijinkan untuk makan atau minum beberapa jam sebelum operasi) dan kemudian saya diijinkan untuk berkumpul dan duduk bersama wanita lainnya dan minum orange squash dan makan beberapa potong biskuit.

Ini terjadi ketika saya berbicara dengan beberapa dari mereka. Dalam sesaat saya merasa senang berada disekitar mereka yang akan menjalani hal yang sama. Kami bahkan tertawa mengenai bagaimana payudara kami menjadi bertambah besar selama masa kehamilan. Saya rasa kami saat itu sedang dalam keadaan shock. Saya ingat merasa lega, tetapi belum menyadarinya secara penuh. Lalu selanjutnya tanda yang ditempelkan di punggung tangan kami dilepas saat kami siap untuk proses selanjutnya pada waktu yang berlainan. Kamar berikutnya lebih kecil, ada TV dan toilet diruang sebelahnya. Saya harus kesana dan melihat seberapa banyak pendarahan yang terjadi dan bisa atau tidaknya saya buang air kecil.

Setelah itu saya diijinkan untuk pulang. Seseorang membawakan tas saya saat saya keluar untuk menemui pacar saya. Di saat ini lah dimana seseorang memperlakukan saya dengan sangat baik. Perawat mengatakan kepada saya untuk menjaga diri dan pacar saya harus menjaga saya untuk kurun waktu 24 jam kedepan. Dan saya pun keluar tanpa konseling apapun.

Share for life

Support life with sharing to your friends!