WANITA MENINGGAL KARENA “ABORSI LEGAL YANG AMAN”

Aborsi  bukanlah suatu prosedur yang “aman” yang sepertinya disebutkan demikian. Komplikasi adalah hal yang biasa terjadi  tetapi  jarang dilaporkan. Banyak wanita yang meninggal dikarenakan perforasi rahim, laserasi, kehilangan darah, infeksi, pembekuan darah dan komplikasi lainnya. Kita mempunyai banyak sekali dokumentasi kasus dari  wanita yang meninggal, yang disebabkan oleh apa yang dinamakan sebagai “aborsi legal yang aman”. Inilah beberapa contoh dari kasus kematian tersebut.

 

BARBARA

Seorang wanita Irlandia meninggal dikarenakan kegagalan fungsi hati yang parah setelah ia melakukan aborsi di suatu klinik di London.  Barbara dari Co.Kerry meninggal karena nekrosis hati setelah melakukan aborsi di Rosslyn Clinic, Kew Gardens, di barat London. Perempuan tersebut berusia 26 tahun.  Ia meninggal pada tanggal 9 Juni 1991. Jenazahnya dibawa ke rumah untuk kemudian dikebumikan di Irlandia.

Sebuah pemeriksaan resmi atas kasus ini digelar di pengadilan Southwark Coroners. Pemeriksa tidak dapat menyatakan dengan tepat apa penyebab kematiannya.  Pacar si wanita tersebut, Paul Halliday, mengatakan bahwa kekasihnya diijinkan pulang dari klinik pada tanggal 30 Mei dan semenjak itu ia mengeluh sakit yang amat sangat pada bagian perut dan bagian belakangnya. Ketika Halliday datang untuk berkunjung pada keesokan paginya ia bahkan sudah tidak sadarkan diri.

Seorang dokter mengatur untuk ia segera di bawa ke rumah sakit West Middlesex dan dari sana  ia ditransfer ke rumah sakit Kings College dimana dia meninggal pada tanggal 9 Juni. Dan tampaknya dia mengalami muntah-muntah sebelumnya.

Klinik aborsi di Inggris biasanya tidak menangani pasien setelah jam kerja yaitu antara jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

 

MICHELLE

Michelle Madden, usia 18 tahun, adalah mahasiswi baru ketika ia mendapatkan dirinya hamil. Michelle memutuskan untuk melakukan aborsi setelah dokter mengatakan bahwa obat untuk epilepsy yang diminumnya dapat mengakibatkan bayinya terlahir cacat. O.B.Evans melakukan tindakan aborsi di Family Planning Medical Center of Mobile, Ala., USA. Tiga hari setelah aborsi, Michelle pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit.

Di rumah sakit, dokter menemukan tulang kaki, dua keping bagian dari tengkorak bayi dan beberapa serpihan plasenta didalam uterus Michelle. Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Michelle meninggal karena infeksi dalam darahnya akibat dari aborsi yang dilakukannya. Orang tua Michelle menuntut Evans untuk malpraktik. Juri memutuskan penggantian sebesar $10 juta kepada orangtua Michelle atas kehilangannya anak perempuan mereka.

The Mobile Press Register, 6/6/91 & 19/6/91

 

LAURA

Laura  Hope Smith, usia 22 tahun, mengunjungi Osathanondh's Women Health Clinic di Hyannis pada tanggal 13 September 2007, ia adalah seorang wanita muda yang sehat, sudah bertunangan dan akan segera menikah, sebelum dia meninggal di meja aborsi Osathanondh. Seorang temannya mengantarkan Laura ke klinik aborsi tanpa sepengetahuan ibunya, Eileen, yang mengatakan kepada Operation Rescue bahwa ia tidak pernah menyadari kalau putrinya hamil 13 minggu dan telah melakukan aborsi sampai putrinya dan bayi yang dikandungnya meninggal.

Dalam laporan sebelumnya diindikasikan bahwa putri dari Smith meninggal akibat pendarahan dalam aborsi, tetapi Smith yakin bahwa informasi tersebut adalah keliru.  “Tidak ada pendarahan. Putri saya berhenti bernapas dan mengalami serangan jantung.” Kata Smith.

 

Terkejut karena kematian.

Kematian Laura mengejutkan Smith dan suaminya Tom, mereka berdua mengaku sebagai orang Kristen yang aktif di Calvary Chapel of Sandwich di daerah Cape Cod, mereka mengadopsi Laura dari panti asuhan di Honduras. Laura sebelumnya telah diadopsi dan ditelantarkan oleh pasangan Amerika yang suka berlaku kasar, ketika pasangan Smith mengambil dia untuk tinggal di rumah mereka dan membesarkannya dengan penuh kasih. Laura aktif sebagai anggota gereja dan lulus dari Upper Cape Tech dengan gelar dalam bidang cosmetology.

“Putri saya berumur 22 tahun, sehat dan masih hidup ketika dia pergi ke klinik tersebut,” kata Smith. “ Dia bahkan tidak sakit flu. Tidak ada alasan apapun untuk dia meninggal.”

Smith mengatakan kepada Operation Rescue bahwa ia menemui pihak Osatanondh secara pribadi selama 1 jam, yang menolak bertemu dengan dia bila ditemani oleh suaminya dan hanya mau bertemu secara pribadi di tempat terbuka. Osathanondh mengakui kepada Smith bahwa mendiang putrinya meninggal diakibatkan karena aborsi, tetapi dia menolak untuk bertanggungjawab.

 

Detail mengenai kematian.

Detail mengenai kematian Laura di meja aborsi membuat Smith muak dan berang, ia disuruh menutup mulut sampai ia mengambil jalur hukum untuk menutut Osathanondh yang telah membunuh putrinya di meja aborsi.

Lebih dari 600 orang menghadiri pemakaman Laura dan seorang wanita muda mengubah pikirannya untuk aborsi setelah mendengar kesaksian  Smith mengenai kematian putrinya yang tragis

Namun, Smith khawatir bahwa pers dan pihak berwenang akan mendiamkan kasus kematian putrinya.  Sebuah koran lokal berjanji untuk mempublikasikan seluruh wawancaranya dengan Smith di hari pemakaman putrinya, tetapi kemudian membatalkan artikelnya.

Sebuah keluhan telah diajukan ke Massachusetts Board of Registration in Medicine untuk menuntut Osathanondh atas kematian akibat aborsi yang dilakukannya.  Di tahun 2001 Osathanondh menjadi berita utama karena mengancam akan membunuh lima perawatnya hanya dikarenakan mereka teledor menaruh berkas-berkas kerjanya.

Share for life

Support life with sharing to your friends!