Nicole adalah seorang perawat Inggris berumur 40 tahun

 

Sahabatku sayang,

Sangat sulit dan menyakitkan bagiku untuk kembali mengenang perasaan-perasaanku, rasa sakit dan marah yang kurasakan 18 tahun lalu saat aku melakukan aborsiku. Perasaan dan pikiranku kini sangat berbeda dengan 18 tahun lalu. Saat itu aku sedang merayakan ulang tahunku yang ke-21. Aku mengadakan pesta, saat itu sedang Halloween. Salah seorang temanku di rumah sakit, seorang portir (kala itu aku seorang siswi keperawatan), sangat peduli padaku apa adanya, bukan tentang apa yang telah terjadi padaku. Aku adalah orang yang semasa kecilnya dipergunakan oleh ayahku untuk memuaskan dorongan seksualnya.

Kembali ke pesta ulang tahunku. Kala itu, saat pesta telah selesai, Sam membantuku membersihkan sisa-sisa pesta. Dia telah banyak minum, begitu pula aku, lagipula itu kan hari ulang tahunku, yang ke-21 pula. Dia mengajakku ke kamarnya untuk minum kopi dan mengobrol. Namun saat kami berjalan sepanjang halaman rumah sakit menuju rumahnya, ia menjadi begitu agresif dan kata-katanya sangat kasar, seperti ayahku dulu saat aku masih kanak-kanak.

Saat itu sangat gelap, namun aku tetap pergi bersamanya karena aku percaya kepadanya, untuk alasan-alasan yang kurang jelas. Aku ingin merasa diinginkan dan dicintai. Saat kami tiba di tempatnya, ia mulai menjadi sangat kasar kepadaku. Aku berusaha melawannya, namun tidak berhasil. Dia mengancam akan membunuhku jika aku tidak melakukan apa yang diinginkannya. Dia mulai memukul di wajahku, dan melucuti pakaianku. Seketika itu, aku sadar, bahwa aku akan diperkosa, dan tidak ada yang dapat kulakukan untuk menghentikannya.

 

Panik

Saat dia telah selesai, seluruh tubuhku penuh dengan luka-luka, luka bekas gigitan dan memar-memar dimana-mana. Kedua mataku lebam, luka gigitan di seluruh dada dan perutku, dan punggungku penuh dengan goresan bekas cakaran kukunya saat ia memperkosa aku.

Aku ingat merasa sangat lega saat hal itu berakhir, namun juga merasa sangat kotor dan direndahkan harga dirinya, lagipula memang sudah tidak banyak lagi yang tersisa. Aku hanya ingat berlari ke rumah secepat yang aku bisa, dan langsung mandi dengan air yang sangat panas, karena aku merasa sangat kotor. Aku menggosok badanku sampai kulitku berdarah. Dan saat itu aku pun menyadari bahwa aku telah hamil.

Lalu aku mulai panik. Lalu aku mulai panik. Aku telah diperkosa, dipukuli, dan diserang dan tidak berani memberitahu siapapun mengenai hal itu. Aku bahkan tidak berani memberitahu GP-ku (General Practitioner – Praktisi medis yang mengobati penyakit akut/ kronis, dan memberikan perawatan pencegahan dan pendidikan kesehatan bagi pasien), padahal dia adalah salah seorang penanggung jawab di rumah sakit, dan kala itu sedang melakukan operasi di bangsal staff, dan juga orang yang selalu siap mendengarkan orang lain. Jadi aku menyimpan sendiri semua rasa sakit, marah, panik, dan rasa bersalahku dan mencoba untuk melupakan semuanya. Namun apa yang kulakukan itu hanyalah membuat segalanya menjadi lebih runyam dalam jangka panjang, inilah yang kusadari sekarang.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku sadar bahwa aku hamil. Dan aku tahu itu pasti bayinya karena kala itu aku tidak punya pacar dan sebelumnya juga belum pernah punya, dan sesudahnya pun tidak akan pernah punya, aku begitu benci pada laki-laki. Persis sebelum natal saya melakukan tes kehamilan. Hasilnya kudapatkan di malam natal. Aku hamil, ketakutan terbesarku benar-benar terjadi. Aku tidak dapat mengingat apa yang kurasakan saat itu, namun aku tahu apa yang kurasakan 18 tahun kemudian. Aku tidak memiliki siapapun yang dapat kupercaya saat itu, dan bahkan sampai saat ini pun masih sangat sulit bagiku untuk membicarakan bayiku dan aborsi yang kulakukan, karena hal itu betul-betul menggangguku. Aku selalu meledak dalam tangisan dan perasaan campur aduk tiap melihat bayi, wanita hamil, dan kereta dorong bayi.

 

Di waktu yang lalu

Aku kini menyesali perbuatanku, namun saat itu keputusan yang logis mengatakan aku harus menyingkirkan bayi itu. Pilihannya  adalah antara bayiku atau karirku. Dan kala itu, karirku nampaknya lebih penting bagiku, karena aku harus membuktikan pada ibuku bahwa aku dapat mempertahankan satu pekerjaan dan bertahan hidup mandiri. Maka aku memutuskan untuk mengaborsi bayiku, utamanya kurasa karena kejadian pembuahan itu sendiri yaitu pemerkosaan.

Juga, kala itu aku pikir aku  tidak akan mampu bertahan dengan bayi saat itu – kenangan yang meliputi kejadian pemerkosaan itu, dan kenangan tentang kekerasan yang dilakukan ayahku sungguh sangat menyakitkan.

Jadi, saya mengatur untuk menghabisi bayi itu, yang kulakukan 9 Februari. Kala itu, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap bayiku, namun kini, hal itu sangat amat mempengaruhiku. Aku merasa sangat bersalah, kesepian, dan terhilang tanpa bayiku di sampingku. Aku tidak akan pernah melihatnya sebagai apapun selain janin berusia 16 minggu. Dan meski waktu berlalu, dia tidak akan pernah bertumbuh besar, tidak akan pernah menjadi dewasa, karena apa yang telah kulakukan di waktu yang lalu.

Aku tahu betul bahwa kehidupan dimulai ketika sel telur bertemu sperma dalam rahim, dan bahwa aku mengakhiri hidup bayiku, aku telah membunuhnya. Aku membunuhnya sendiri, dengan sedikit bantuan dari para ‘profesional’, sebagimana mereka menyebut diri mereka.

 

Episode depresi yang mendalam

Saat ini seluruh pikiran dan perasaanku adalah mengenai bayiku, Judy, demikian aku memutuskan untuk menamainya. Yang kutahu adalah bahwa aku begitu mengingikan bayiku bahkan aku sampai berpikir untuk menculik anak orang lain di luar toko. Perasaan itu begitu kuat hingga terkadang aku takut aku mungkin akan melakukan sesuatu yang konyol.

Sejak aku bergabung dengan kelompok support untuk wanita-wanita yang terluka, untuk pertama kalinya aku merasakan bahwa ada orang yang sungguh peduli padaku, dan perasaan yang kurasakan untuk bayiku. Kehangatan dalam kelompok itu begitu kuat sehingga aku mulai dapat berpikir bahwa akhirnya aku akan dapat melampaui episode depresi mendalam dan rasa sesal yang kurasakan di dalam diriku.

Aku tahu bahwa semua ini mungkin terdengar membingungkan, namun aku perlu mengeluarkannya dari kesesakan di dadaku sebelum aku pergi tidur malam ini. Aku merasa begitu tidak bahagia dan putus asa dan aku harus memberi tahu seseorang mengenai hal ini, dan seseorang itu adalah kau. Kuharap kau tidak keberatan, dan aku merasa lebih baik sekarang. Terima kasih telah mendengarkan aku.

 

Cinta dari Nicole

 

Share for life

Support life with sharing to your friends!