Eithne sayang,

Sudah sembilan bulan pada hari dan tanggal sejak aku memberi izin untuk mengaborsimu. Betapa mengerikan hal yang kulakukan terhadapmu, bayi perempuanku yang cantik. Aku berharap sekarang aku bisa membesarkan dan merawatmu. Namun yang dapat kulakukan kini hanyalah mengenang kembali dengan penyesalan dan kesedihan, berpikir tentang apa yang telah kulakukan padamu, betapa kau pasti merasa sangat kecewa.

Betapa aku ingin dapat melihat wajahmu, bahkan hanya untuk sekali. Aku merasa kau begitu dekat seakan aku dapat menjangkau dan menyentuhmu, kali lain aku merasa kau tidak ingin berurusan lagi denganku. Aku tidak dapat menyalahkanmu jika kau membenciku dan berpaling dariku. Tapi aku hampir yakin bahwa dalam kepolosan kanak-kanakmu, kau telah mengampuniku, dan semoga saja kau mulai belajar mencintaiku.

Aku ingin berteriak dalam keputus asaan. Andaikan dulu aku mengetahui apa yang kuketahui sekarang, tentang cara mengerikan yang kulakukan, mengakhiri hidupmu yang begitu pendek! Aku hanya dapat berharap kau telah memaafkanku. Ada kalanya aku merasa bahkan aku pun tak akan pernah mampu memaafkan diriku sendiri.

Kau begitu bergantung padaku untuk perkembangan dan pertumbuhanmu, sampai hari kelahiranmu, dan aku telah bersikap begitu egois. Betapa aku berharap dapat memutar waktu kembali ke 18 Juni dan mengatakan ‘tidak’ pada aborsi. Aku merasa sangat sedih dan kesepian, dan saat aku berbicara kepada ayahmu mengenai perbuatan keji kami hari itu, hari di saat kau meninggal, aku tahu bahwa ia pun menderita. Karena kau adalah bagian dari kami, aku merasa bahwa aku juga telah membunuh bagian dari dirinya, dan terkadang ingatan akan dirimu membuatku sulit untuk berhadapan muka dengannya.

Terkadang, saat aku melihatnya, aku bertanya-tanya apakah kau akan mirip dengannya. Hal itu sungguh mengecewakan, karena kemudian aku menyadari bahwa aku bahkan takkan pernah tau seperti apa rupa wajahmu. Aku takkan pernah mendengar tangisan pertamamu, melihat senyuman pertamamu, mengusap air matamu atau melihatmu pertama kali berjalan. Maafkan aku, Eithne, karena telah melakukan hal itu kepadamu. Aku tahu, mungkin kau berpikir bahwa aku tidak mencintaimu, dan sungguh menyedihkan kau meninggal dengan perasaan tertolak. Kumohon jangan menghakimiku dengan keras. Aku sungguh mencintaimu, dan akan selalu begitu.

Takkan ada yang dapat mengisi kekosongan yang kau tinggalkan di hatiku. Aku hanya berharap bahwa dengan menghadapi kenyataan tentang hal yang telah kulakukan kepadamu, dapat membantuku menerima diriku sendiri, mengerti orang seperti apakah aku ini sesungguhnya. Aku harap aku dapat menggambarkan kepadamu apa yang kurasakan saat itu, betapa cepat aku menolak untuk mengakui keberadaanmu, dan begitu berat perasaanku saat harus menjalani proses aborsi.

Orang-orang di Inggris membuat semuanya terdengar begitu mudah, tetapi kau,orang yang paling penting, Eithne – kau tak pernah disebutkan. Betapa mengerikan hal itu. Kuharap kau dapat memaafkan aku dan ayahmu, dan aku harap kau masih dapat mencintai kami sebagaimana kami mencintaimu. Meskipun apa yang kami lakukan saat itu sungguh-sungguh berlawanan.

 

Catherine

 

Share for life

Support life with sharing to your friends!