POST ABORTION SYNDROME (SINDROMA PASCA ABORSI)

 

VARIAN GANGGUAN STRESS PASCA TRAUMA

Post-Abortion Syndrome (PAS) adalah salah satu varian dari Post Traumatic Stress

Disorder (PTSD), dan aborsi adalah salah satu penyebab trauma yang terdaftar dalam DSM-111R 60 panduan diagnostik yang dipakai oleh Amerika untuk mendiagnosa gangguan mental.

Dalam Edisi ke Empat dari DSM, aborsi dikeluarkan dari daftar pemicu, tetapi hal ini lebih dikarenakan keputusan politik daripada pembuktian secara klinis.  Semenjak itu, lebih banyak lagi bukti yang mengindikasikan bahwa aborsi dapat menjadi substansi bagi gangguan kejiawaan.  Post Traumatic Stress Disorder merupakan akibat dari pengalaman penderitaan yang sangat traumatis sehingga orang yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya secara “normal”.

Ada beberapa teori yang melatarbelakangi pathogenesis (semakin parahnya keadaan suatu penyakit/ kelainan/ gangguan) dari PTSD, tetapi sejauh ini hanya berupa teori saja. Penderita PTSD bahkan tidak mampu untuk kembali kepada kehidupan mereka yang terdahulu, sebelum mengalami kejadian traumatis ini.  Malahan, mereka mengalami berbagai macam gejala gangguan psikologis yang cukup parah yang tidak dapat hilang begitu saja seiring berjalannya waktu.

Resiko bahwa suatu pengalaman dapat menjadi suatu trauma akan membesar apabila kejadian penyebab trauma tersebut meliputi ancaman kekerasan fisik, pelanggaran seksual,  atau ikut menyaksikan dan/atau bahkan terlibat dalam peristiwa kekerasan tersebut.

Ada berbagai macam alasan mengapa wanita merasa aborsi sebagai kejadian yang traumatis. Sebagian, mungkin karena dipaksa melakukan aborsi atas paksaan teman prianya, orangtua, dokter, konselor atau lainnya.

Sudah tentu, sebagian wanita, sebagaimanapun dirinya merasa yakin ingin melakukan aborsi, kemungkinan akan tetap menganggap bahwa keputusan untuk mengakhiri kehamilan mereka adalah membunuh anak mereka sendiri.  Ketakutan, kecemasan dan perasaan bersalah yang berhubungan dengan prosedur ini bahkan sering membuatnya lebih tertekan.

 

TEKANAN YANG LUAR BIASA

Peneliti aborsi, David C Reardon menulis dalam bukunya, Aborted Women : Silent No More, bahwa sebagian wanita melaporkan bahwa rasa sakit akibat aborsi, yang dilakukan oleh seorang asing bermasker dalam jubah operasi, dirasakan sama seperti diperkosa.  Peneliti telah menemukan kepastian bahwa wanita yang mempunyai sejarah akan kekerasan seksual, dapat mengalami penderitaan yang lebih mendalam sebelum dan sesudah melakukan aborsi, dikarenakan adanya hubungan di antara kedua kejadian tersebut. (61)

Oleh karena kesamaan yang begitu luar biasa antara gejala yang dipastikan sebagai Post Traumatic Stress Disorder dan gejala yang dilaporkan sebagai Post-Abortion Syndrome hampir dapat dipastikan bahwa PAS adalah varian dari PTSD. Dan untuk PTSD, gejala dan tandanya bervariasi dan kadang tidak terlihat untuk beberapa waktu setelah trauma.

Namun, hal ini adalah nyata dan harus ditangani dengan sebaik mungkin.  Masing-masing gejala dari PAS/ PTSD bisa muncul tidak bersamaan dan tidak semua wanita mengalami gejala yang sama secara menyeluruh.  Beberapa gejala mungkin akan terlihat langsung setelah aborsi, sementara yang lainnya mungkin baru akan muncul beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian.

Tanda-tanda utama dari Post-Abortion Syndrome adalah sebagai berikut :

1. Hyper-arousal:

 Hyper-arousal adalah karakteristik  dari sikap pertahanan “melawan atau pergi”  yang tidak pada tempatnya dan berlebihan.  Orang yang bersangkutan secara permanen dan terus menerus waspada akan kemungkinan ancaman atau bahaya.

2. Intrusions / Flash-backs:

Mengingat kembali pengalaman traumatis secara tiba-tiba di saat yang tidak dikehendaki.  Ini termasuk pikiran yang mengganggu secara berulang-ulang mengenai aborsi atau anak yang diaborsi, kenangan atau kilas balik dimana si wanita menghidupkan kembali saat kejadian aborsi, rasa duka yang mendalam pada saat-saat tertentu, misalnya peringatan hari dimana ia melakukan aborsi, dsb. (62)

3. Avoidance:

Seseorang yang pernah mengalami kehilangan yang begitu menyakitkan dan mendukakan, terkadang membangun naluri untuk menghindar dari situasi yang sama dikemudian hari, yang dapat mengingatkan mereka akan trauma yang sebelumnya.   Dalam kasus post-abortion trauma, sikap menghindar bisa termasuk dengan tidak bersedia untuk menceritakan pengalaman aborsinya, usaha untuk menghindari situasi yang bisa mengingatkan kepada kejadian aborsi, menarik diri dari suatu hubungan atau relasi, menghindari anak-anak, dsb.

 

TANDA-TANDA LAINNYA TERMASUK

Depression
Depresi adalah konsekuensi yang paling merugikan dan paling sering terjadi sebagai akibat dari aborsi.  Rasa malu, kebungkaman, perasaan dan pikiran tertekan berkenaan dengan aborsi, semuanya terhubung dengan gejala yang lebih mendalam dari depresi pasca aborsi, kecemasan dan kebencian.  Frederick Burkle menulis dalam The Practitioner bahwa bila rasa kehilangan itu dinilai, maka depresi akan terjadi.  Dia menambahkan bahwa untuk mengatasi depresi, proses akan kedukaan harus dilalui. (63)

Depresi dapat dikatakan sebagai dampak atau rasa kehilangan patologis (kematian bayi, kehilangan akan peran sebagai ibu, mimpi yang terenggut).  Bisa juga hasil dari kemarahan yang terpendam, perubahan akan suatu hubungan serius atau keadaan-keadaan pribadi.  Parry et al, (64) juga mengkonfirmasi hubungan antara aborsi dan depresi setelahnya, dalam laporan mereka.  Mereka menyimpulkan bahwa “wanita sangat rentan terhadap depresi yang berkaitan dengan aborsi.”

Guilt
Perasaan bersalah adalah yang  reaksi pasca-aborsi paling sering segera, dan kadang juga terlambat, dirasakan.  Perasaan bersalah adalah reaksi yang normal dan yang sering terjadi setelah wanita menyadari konsekuensi aborsi.  Dalam satu studi, (65) hasil wawancara dgn wanita pasca-aborsi yang mendapat perawatan di pusat pelayanan kehamilan, ditemukan bahwa 66% dari mereka mengalami perasaan bersalah dan 54% mengalami penyesalan yang mendalam karena telah melakukan aborsi. Perasaan bersalah, tentunya, lebih umum terjadi dalam budaya dimana secara jelas menolak aborsi.  Perasaan bersalah sering diungkapkan melalui kemarahan terhadap diri sendiri dan orang lain yang berhubungan  dalam membuat keputusan melakukan aborsi, seperti orangtuanya, dokter, pekerja sosial, konselor, dsb.

Anxiety
Kecemasan adalah keadaan yang tidak menyenangkan secara emosi dan fisik.  Catherine Barnard melakukan studi pada wanita pasca aborsi untuk Institute of Pregnancy Loss (65a) dan menemukan bahwa 47.5% dari wanita tersebut menunjukkan adanya peningkatan tingkat kecemasan setelah melakukan aborsi.  Wanita pasca aborsi dengan gejala kecemasan dapat mengalami beberapa hal berikut: ketegangan (tidak mampu untuk relaks, mudah marah), respons fisik (jantung berdebar, sakit kepala), kuatir akan masa depan, gangguan tidur.

Referensi

Post-abortion Syndrome
60. DSM IV, American Psychiatric Association 2000
61. Zakus G, Wilday S, "Adolescent Abortion Options," Social Work in Healthcare, 12(4):77, Summer 1987
62. Speckhard A C, Rue V M, "Post-abortion Syndrome, An Emerging Public Health Concern," Journal of Social Issues, Vol 48(3): 95-119, 1992
63. Burkle F M, "A Developmental Approach to Post-Abortion Depression", The Practitioner 218:217, February 1977
64. Parry B L, "Reproductive Factors Affecting the Course of Affective Illness in Women," Psychiatric Clinics of North America 12(1): 207, March 1989
65. Gsellman L, "Physical and Psychological Injury in Women Following Abortion: Akron Pregnancy Services Study," Assoc. for Interdisciplinary Research in Values and Social Change Newsletter 5(4): 1-8, 1993
65a. Barnard C, "The Long Term Psychological Effects of Abortion," Portsmouth: Institute for Pregnancy Loss, 1990 

 

PENYANGKALAN DAN PERAHASIAAN

Psikiater dari Melbourne, Dr. Eric Seal, yang mendefinisikan PAS sebagai “sindroma kesedihan yang tertunda, atau lambat berkembang, atau berlarut-larut, dan bahkan terkadang kronis/ menahun..” menyatakan: “Sindroma pasca aborsi tidaklah sama dengan bentuk postnatal blues parah sekalipun.  Melainkan lebih serius, karena gejalanya sering tidak terlihat diawal, lebih memakan waktu yang lama dan lebih mendasar dalam pembentukan kepribadian selanjutnya…”

Dia juga mengatakan bahwa, “bila sindroma itu terjadi dan tidak ditangani secara tuntas, kepribadian akan berubah secara bertahap dan akan suatu waktu akan muncul kepermukaan dan mempengaruhi kehidupan berkeluarga seseorang, kemampuannya bekerja, dan kehidupan sosial dan setidaknya kemampuannya untuk bersenang-senang”

Namun, penelitian tentang trauma pasca aborsi selama ini belumlah memadai dan sejumlah dokumen berupa opini yang tidak ilmiah yang beredar justru membuat orang-orang bertambah bingung.

Para tenaga medis tidaklah dilatih dalam ketrampilan mendiagnosa dan pengobatan untuk PAS, dan mereka kebanyakan enggan untuk menyelidiki permasalahan yang timbul setelah aborsi, tindakan terbaik yang dapat mereka tawarkan hanyalah penanggulangan gejala. Para terapis yang peduli akan trauma pasca aborsi, memiliki ketakutan yang masuk akal bahwa mereka akan diserang atau dikucilkan secara profesional, (secara khusus oleh mereka yang ‘bersumbangsih’ mendukung tindak ‘aborsi yang aman’) jika mereka secara terbuka dan profesional menyuarakan kepedulian mereka.

Perlulah dinyatakan, walaupun terlihat jelas, bahwa bagi banyak wanita, aborsi, seperti juga halnya dengan keguguran dan bayi yang meninggal saat dilahirkan, adalah pengalaman akan kematian.  Wanita yang melakukan aborsi dapat mengalami PAS, bukan hanya semata-mata disebabkan oleh kematian si janin tetapi disebabkan oleh kenyataan bahwa kematian tersebut merupakan tanggungjawabnya, atau setidaknya sebagian adalah tanggungjawabnya, hal ini membuatnya tidak mampu untuk memproses pengalaman akan kematian tersebut sebagaimana secara normal seseorang menghadapi kehilangan karena kematian.

Kesedihan yang belum ditangani ini akan bertambah rumit dengan adanya kenyataan bahwa aborsi tidak dianggap sebagai kematian yang diakui.  Wanita yang melakukan aborsi tidak mendapat dukungan sosial dalam menghadapi kesedihan atas pengalamannya yang menyakitkan.  Tidak peduli dalam tahap kehamilan apapun aborsi itu dilakukan, wanita PAS percaya bahwa apa yang dihancurkan dalam aborsi adalah bayi yang belum dilahirkan.  Namun,  bukannya membuat keputusan yang sesuai dengan perasaan yang sebenarnya dan keyakinannya, dalam ketakutan dan kepanikannya, si wanita memasuki tahap “penyangkalan”.

Dalam hal ini biasanya si wanita berpaling kepada orang-orang sekitarnya untuk dukungan.

Tanda utama dari PAS adalah penyangkalan dan perahasiaan.  Biasanya aborsi diikuti (tetapi tidak selalu demikian) oleh tahun-tahun dengan reaksi negatif yang tidak dapat dimengerti, si wanita secara tidak sadar mengkaitkan gejala-gejala tersebut dengan peristiwa aborsi.

Munculnya gejala-gejala yang terpendam ini dipicu oleh keadaan seperti tanggal peringatan, kelahiran atau kematian dari anak lainnya, atau kejadian yang berhubungan dengan anak-anak atau reproduksi.  Seperti pendapat dari Professor Ney, “….mereka biasanya menutupi dengan penampilannya, tetapi dengan mudah terlihat kerapuhannya seperti menderita penyakit yang serius atau gangguan kejiwaan pada saat krisis.”

 

PENELITIAN DARI POST ABORTION SYNDROM

KORBAN YANG DISALAHKAN

Tingkat keparahan dan kejadian PAS lebih banyak berhubungan dengan seberapa “tegas” wanita tersebut, seperti : wanita dengan emosi yang tidak stabil atau mempunyai latar belakang yang disfungsional lebih mudah menderita trauma secara psikologi dan emosional.  Hasil penelitian telah mengidentifikasi wanita-wanita yang “beresiko tinggi” sejak awal 1980.

Wanita ‘beresiko tinggi’ ini meliputi orang muda, orang yang mengalami trauma, orang-orang yang menutup diri dan yang tersingkirkan, orang-orang yang lemah kemampuan untuk mengatasi masalahnya, orang-orang yang mengalami kekerasan seksual, orang-orang yang mempunyai keterbatasan secara psikologis, keterbelakangan mental dan orang-orang yang melakukan aborsi dengan berbagai alasan kesehatan.  Alih-alih menyeleksi wanita-wanita rentan ini terhadap ‘keputusan’ aborsi, atau bahkan menegur mereka, malahan keadaan emosi mereka atau lemahnya kemampuan mereka untuk mengambil keputusan  pada saat mengalami krisis, seringkali dipakai sebagai alasan untuk menjelaskan penyebab terjadinya sindroma yang mereka alami pasca aborsi.

Dr. Vincent Rue menamakan ini sebagai suatu tipe baru dari keadaan yaitu menyalahkan si korban.

 

WANITA DENMARK

Dalam catatan Henry David mengenai 1.1 juta wanita Denmark, dan sebagai salah satu studi terbaik yang didesain secara metodologis saat itu, ditemukan bahwa dibandingkan dengan wanita-wanita yang melahirkan, wanita yang melakukan aborsi 53% lebih banyak masuk ke dalam rumah sakit jiwa.

Tetapi pada wanita yang melakukan aborsi, yang hidup terpisah dari pasangannya, bercerai atau menjanda, 4x lipat lebih banyak masuk ke dalam rumah sakit jiwa, dibandingkan dengan wanita yang melahirkan (dengan kategori yang sama).

Sayangnya, David membatasi penelitiannya hanya untuk mereka yang dalam rentan waktu 3 bulan setelah kejadian, dan tidak menjelaskan berapa banyak dari wanita-wanita yang melahirkan tersebut, yang dirawat akibat gangguan kejiwaan, yang memiliki sejarah aborsi. (Kasus pesalinan di usia tua pada umumnya adalah pemicu munculnya ‘gejala yang terlambat’ dari PAS)

(Penemuan David ini berlawanan dengan penelitian Brewer, yang kebanyakan sudah dipublikasikan, yang sering dikutip namun tidak benar,  yang mengatakan bahwa aborsi secara psikologis lebih aman daripada melahirkan)

 

PENELITIAN LAINNYA DARI PARA AHLI

Di tahun 1992, the British Journal of Psychiatry menerbitkan ulasan dari Zolese and Blacker, yang menemukan bahwa gangguan psikologis atau kejiwaan, yang berkaitan dengan aborsi, terlihat jelas, menjadi parah atau permanen dalam 10% dari kasus yang ada.

Dibatasi oleh karena banyaknya penelitian terkait hingga kini dan seringnya terjadi bias atau kerancuan dalam penterjemahan hasil dan terlebih ditambah dengan kecenderungan bahwa PAS hanya diberi label dari gejala-gejala yang tampak, maka angka 10% bisa jadi jauh lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya.

Di tahun 1994, suatu badan swasta UK commission of Inquiry yang dikepalai oleh Lord Rawlinson mendapatkan bahwa wanita yang melakukan aborsi sebanyak 87% mengalami gangguan emosi jangka panjang dan 15% nya meminta untuk diberikan konseling.

Dr. Patricia Casey, seorang professor ilmu kejiwaan dari Dublin, menyarankan bagi mereka yang bekerja dalam bidang ini untuk menggunakan jenis penanganan/ pengobatan yang juga digunakan dalam menanggulangi bentuk gangguan lain setelah kehilangan atau trauma besar lainnya.

Dr. Joanne Angelo, asisten profesor klinis ilmu kejiwaan di Boston, menyatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari penderita PAS membutuhkan lebih dari satu disiplin ilmu untuk mengobatinya atau harus dicoba untuk ditampung dan diberikan pengarahan oleh suatu tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu.  Namun, masih banyak hal lagi yang harus dikerjakan dengan segera untuk menyelesaikan masalah ini.

(Adalah sangat penting untuk dicatat bahwa perantara dan institusi-institusi yang melakukan aborsi, yang memberikan fasilitas akan penolakan ini, tidak dapat diikutsertakan dalam terapi ini).

 

 

 

Share for life

Support life with sharing to your friends!