PRIA MENEMUKAN KEDAMAIAN SETELAH MENGIKUTI WORKSHOP PEMULIHAN PASCA-ABORSI

(Oleh: Rosemary Benefield)

Pada tanggal 29 Maret, hari Sabtu keempat pada masa Prapaskah, masa pertobatan dan berdamai bagi umat Gereja, tujuh pria datang ke Pusat Pastoral Keuskupan San Diego untuk berhadapan dengan sumber tersembunyi dari rasa sakit mereka karena pengalaman aborsi.

Jim Benefield, MFT dan Don Dake menyambut mereka saat ketujuh pria tersebut berjalan masuk, beberapa dengan keragu-raguan dalam diri mereka, ke dalam sebuah ruangan dimana workshop diadakan. Sekitar 10 menit setelahnya, salah seorang dari pria yang masuk ke dalam ruangan segera meninggalkan ruangan tersebut dan berkata “Aku tak mampu menghadapi ini sekarang.”

Workshop dimulai dan sekitar setengah jam kemudian pria tersebut kembali dan berkata bahwa ia telah menghubungi salah seorang kerabat dekat yang kemudian menyemangatinya untuk kembali melanjutkan dan menyelesaikan workshop tersebut.

Sebagian dari presentasi seharian itu mencakup beberapa film pendek mengenai efek yang ditimbulkan aborsi pada wanita dan pria, yang kemudian diberikan kesempatan pada para pria untuk mendiskusikannya. Beberapa akibat yang ditimbulkan oleh aborsi kepada pria termasuk: rasa marah, kecemasan, kesulitan dalam membina hubungan, rasa bersalah, rasa malu, dan duka. Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan hubungan tidak akan bertahan setelah aborsi.

Lima dari para peserta pria pernah memiliki istri atau pacar yang telah sebelumnya mengikuti retret “Rachel’s Hope Women’s Retreat.” Tiga dari para pria tersebut telah berpisah atau bercerai dengan ibu dari anak mereka yang telah diaborsi. Salah satu pria, yang menikah dengan seorang wanita pasca-aborsi, ingin memahami hal-hal yang dialami istrinya sebagai akibat dari aborsi yang dilakukannya beberapa tahun yang silam. Jangka waktu sejak aborsi terjadi beragam mulai dari satu hingga 21 tahun yang lalu.

Di akhir workshop, pria yang sebelumnya meninggalkan ruangan itu mengatakan, “ Aku merasa jauh lebih baik dibandingkan semula saat aku pertama datang kemari. Aku telah mencoba banyak hal, namun ini adalah yang paling sesuai dengan situasi yang kuhadapi. Pemahaman akan kehendak Tuhan dalam hidupku membantuku melepaskan beban yang selama ini kutanggung. Banyak perubahan yang harus kulakukan, seperti meninggalkan kemarahan, mencoba memaafkan diriku sendiri dan melepaskan. Aku sungguh bersyukur aku kembali.”

Benefield menyatakan bahwa rasa malu dan perahasiaan akan keterlibatan mereka dalam aborsi memiliki suatu kekuatan yang sangat kuat atas mereka sehingga lima dari tujuh pria menyatakan bahwa meskipun mereka telah pergi mengaku dosa untuk dosa-dosa lain yang mereka lakukan, mereka tetap tidak mengakui dosa aborsi mereka, sementara terus menerima Ekaristi.

Pernyataan-pernyataan lain yang tertulis dalam kuesioner evaluasi meliputi:

 “ Saya merasakan kelegaan dan pengakuan akan kebenaran dan penerimaan akan tanggung jawab dengan pengampunan dari Tuhan dan anak saya. Bahwa Tuhan ingin agar saya bahagia dan hidup dalam kelimpahan rahmatNya.”

“ Nampaknya segala beban berat dan tekanan telah hilang. Aborsi telah dimunculkan ke permukaan dan tak lagi tersembunyi. Ini membantuku menyadari bahwa aku bukanlah satu-satunya yang menghadapi hal ini”

“ Aku merasa lebih damai. Aku tahu aku harus menerima pengampunan dan belas kasihan dan bahwa aku bukanlah tuhan.”

Benefield mengatakan “ workshop satu hari  telah memberikan banyak hal bagi para pria dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dibandingkan yang dapat kulakukan dalam terapi individual karena adalah para pria yang menyembuhkan para pria ketika mereka mengungkapkan dan berbagi tentang diri mereka sendiri. Workshop ini menyediakan sebuah lingkungan dimana mereka tidak akan dihakimi.”

Share for life

Support life with sharing to your friends!