Meningkatnya Kanker Payudara

            Ini adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa adanya peningkatan kanker payudara di seluruh dunia. (1) Baru-baru ini penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebabnya kenaikan ini adalah aborsi. (2) Penghentian kehamilan menyela pertumbuhan dan perubahan hormon yang memungkinkan payudara untuk menghasilkan susu, membuat jaringan payudara menjadi rentan pada peningkatan resiko pengganasan.

Referensi:

1. Prof Cuzick J, University of London, Statistics in Medicine, Vol 23, Issue 7, 2002
2. Brind J et al, "Induced Abortion as an Independent Risk Factor for Breast Cancer, a comprehensive review and meta-analysis”, Journal of Epidemiology and Community Health 50: 481-496, 1996

 

WANITA MEMENANGKAN KASUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN KANKER PAYUDARA

            Pada Januari 2002, dalam kasus yang pertama dari jenisnya di dunia, seorang wanita Australia mencapai penyelesaian dengan pelaku aborsi yang telah dia tuntut karena tidak memberitahukan padanya tentang penelitian yang menghubungkan aborsi dengan kanker payudara. Wanita yang terlibat dalam kasus ini dirahasiakan identitasnya oleh pasal kerahasiaan pengadilan.

            Pada waktu penyelesaian, kasus serupa yang lain masih tertunda di New South Wales, Australia. Keputusan sidang, termasuk di dalamnya mengenai gangguan parah  untuk tekanan psikologis, telah diputuskan di pengadilan saat terungkap bahwa pelaku aborsi sepenuhnya menyadari adanya hubungan dengan kanker.

 

KETERKAITAN ANTARA ABORSI DAN KANKER PAYUDARA

Keterkaitan Ditinjau Secara Biologis

Kehamilan pertama seorang wanita menyebabkan perubahan hormonal yang secara permanen mengubah struktur payudara. Saat kehamilan dihentikan sebelum waktunya, proses ini terganggu. Alih-alih payudara kembali normal, sebagaimana mestinya saat sesudah melahirkan, aborsi meninggalkan jutaan sel payudara tertahan pada keadaan transisi. Penelitian pada jaringan otot hewan dan manusia menunjukkan bahwa sel pada fase keadaan ini beresiko sangat tinggi akan kemungkinan menjadi kanker.

Dr. Charles E Simone menjelaskan hubungan sebab akibat antara aborsi dan kanker paudara dalam bukunya, Breast Health. (3)

“Saat pembuahan terjadi, perubahan hormonal mempengaruhi payudara. Jaringan saluran susu berkembang cepat untuk membentuk jaringan lain yang akhirnya memproduksi susu. Dalam periode pertumbuhan dan pembentukan yang besar-besaran ini, sel-sel payudara sedang mengalami perubahan secara besar-besaran dan belum matang dan karenanya menjadi sangat rentan terhadap karsinogen. Namun saat kehamilan pertama ini selesai dengan sempurna, perubahan hormon terjadi dan secara permanen mengubah jaringan payudara untuk secara luar biasa menurunkan resiko pengaruh karsinogen dari luar. Saat penghentian terjadi dalam kurun trimester pertama, efek protektif ini tidak terjadi, dan banyak dari sel payudara yang sedang membelah, tinggal dalam fase transisi. Dalam fase transisi dimana terjadi perkembang biakan inilah sel-sel tersebut dapat mengalami perubahan menjadi sel-sel kanker.”

Saat pembuahan terjadi untuk pertama kalinya, estrogen dan hormon lainnya ‘membanjiri’ jaringan seorang ibu, menyebabkan sel-sel payudaranya mengalami perubahan besar-besaran. Pada sekitar akhir trimester pertama kehamilan, hormon seimbang dalam perubahan tubuh wanita. Oestrogen menurun dan hormon lainnya mulai naik.

Fase pertumbuhan payudara berhenti dan fase baru diferensiasi dimulai, dan terus berlanjut sampai bayi dilahirkan. Diferensiasi sel adalah proses dimana sel-sel menjadi lebih khusus (secara fungsinya), dan berubah menjadi berbagai jenis organ dan otot dalam tubuh. Ketika telah menjadi lebih khusus, sel-sel menjadi lebih rendah kemungkinannya untuk berubah menjadi kanker.

Aborsi yang terjadi pada trimester pertama mengganggu proses pematangan payudara pada saat yang paling buruk dan tidak tepat. Pada saat sel-sel sedang bereproduksi dengan kecepatan tercepat, seperti juga selama masa pematangan payudara, kemungkinan terjadinya gangguan sedang pada puncaknya. Diperkirakan bahwa gangguan reproduktif inilah yang menyebabkan kanker.

 

Keterkaitan Ditinjau Secara Statistik

Penelitian secara kuat menyatakan bahwa kehamilan yang gagal mencapai masanya, terkait dengan memuncaknya kanker payudara secara signifikan. (4) Pertambahan resiko signifikan secara statistik. Analisa terhadap berbagai penelitian hingga kini mengindikasikan bahwa wanita yang kehamilannya berakhir lebih awal, memiliki resiko kanker yang 50% lebih tinggi dibandingkan mereka yang mempertahankan kehamilannya sampai masanya melahirkan. Hal ini pertama diungkapkan oleh Dr. Janet Daling, seorang peneliti epidemiologi dari Amerika. Pada tahun 1994 ia mempublikasikan penelitiannya dalam Jurnal National Cancer Institute mengungkap bahwa wanita yang melakukan aborsi yang disengaja memiliki 50% lebih besar kemungkinan untuk terjadinya kaker payudara dibandingkan wanita yang belum pernah melakukan aborsi sebelumnya.(5)

Secara signifikan Daling memisahkan wanita yang mengalami keguguran, dan menemukan bahwa tidak ada peningkatan resiko kanker payudara pada mereka. Penemuan Dr. Daling ini bukanlah satu-satunya. Saat ini  telah ada 33 penelitian epidemiologi di seluruh dunia, yang dalam 27 diantaranya menunjukkan resiko kanker payudara yang lebih besar pada wanita yang pernah mengalami aborsi yang disengaja. (6)

 

Usia Saat Pertama Kali Aborsi

Beberapa penelitian aborsi-kanker payudara juga telah meninjau pertanyaan mengenai apakah wanita yang melakukan aborsi pada usia yang sangat muda memiliki resiko yang secara signifikan lebih tinggi akan terbentuknya kanker payudara di kehidupannya kemudian.

Dikarenakan kecepatan perkembangbiakan sel lebih cepat pada orang-orang berusia muda, Daling dan rekan-rekannya menyatakan ada kemungkinan bahwa resiko terjadinya kanker payudara lebih besar pada wanita yang lebih muda dari usia 18 tahun pada saat melakukan aborsi pertamanya, dan karenanya patut dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Bukti-bukti dari sejumlah sumber yang berbeda semua mengacu pada satu kesimpulan yang sama: aborsi secara dramatis meningkatkan resiko kanker payudara. Para wanita berhak mendapatkan penjelasan atas informasi ini. Saat seorang wanita sedang dalam penanganan dan aborsi disarankan oleh mereka yang menanganinya, maka mereka bertanggung jawab untuk menginformasikan kepadanya akan resiko yang serius ini.

REFERENSI

3. Dr Simone C E, "Breast Health: What you need to know," 1995, Avery Publishing, TN USA, 1995, Page 147
4. Lipworth L et al, "Abortion and the Risk of Breast Cancer : A Case-control Study in Greece," International Journal of Cancer 61: 181-184, 1995
5. Daling J R, Malone K E, Voigt L F, White E, Weiss N S, "Risk of Breast Cancer among young women, relationship to induced abortion," Journal of National Cancer Institute 1994 Nov (2); 86 (21): 1584-92
6. (27 studies that link abortion to breast cancer)
6A. Segi M, Fukushima I, Fujisaku S, Kurihara M, Saito S, Asano K et al, "An epidemiological study of cancer in Japan," GANN 48, Supplement (April 1957):1-43
6B. Watanabe H, Hirayama T, "Epidemiology and clinical aspects of breast cancer," (translation of Japanese title), Nippon Rinsho 1968 Aug; 26(8); 1843-1849
6C. Dvoirin V, Medvedev A B, "Role of Women's reproductive status in the development of breast cancer," Methods and Progress in Breast Cancer Epidemiology Research, 1978, Moscow: Oncology Science Centre of the USSR Academy of Sciences 1978, p 53-63
6D. Pike M C, Henderson B E, Casagrande J T, Rosario I, Gray G E, "Oral contraceptive use and early abortion as risk factors for breast cancer in young women", British Journal of Cancer 1981 Jan;43(1):72-6
6E. Nishiyama F, "The epidemiology of breast cancer in Tokushima Prefecture," Shikou Ichi 1982;38:333-43
6F. Brinton L A, Hoover R, Fraumeni Jr J F, "Reproductive factors in the aetiology of breast cancer," British Journal of Cancer 1983 Jun; 47(6):757-762
6G. Le M, Bachelot A, Doyon F, Kramer A, Hill C, "Oral contraceptive use and breast and cervical cancer: preliminary results of a French case-control study", Hormones and Sexual Factors in Human Cancer Aetiology, eds Wolf J-P and Scott J S, 139-47, Amsterdam: Elsevier, 1984 
6H. Hirohata T, Shigematsu T, Nomura A M, Nomura Y, Horie A, Hirohata I, "Occurrence of breast cancer in relation to diet and reproductive history: A case control study in Fukuoka, Japan," National Cancer Institute Monograph 1985 Dec:187-190
6I. Rosenberg L, Palmer J R, Kaufman D W, Strom B L, Schottenfeld D, Shapiro S, "Breast cancer in relation to the occurrence and time of induced and spontaneous abortion," American Journal of Epidemiology 1988 May; 127(5): 981-989
6J. Luporsi (1988) "unpublished" and referenced in British Journal of Cancer 72-744-51.
6K. Rohan T E, McMichael A J, Baghurst P A, "A population based case-control study of diet and breast cancer in Australia," American Journal of Epidemiology, 1988; 128(3): 478-89
6L. Ewertz M, Duffy S W, "Risk of breast cancer in relation to reproductive factors in Denmark," British Journal of Cancer 1988 Jul;58(1):99-104
6M. Howe H L, Senie R T, Bzduch H, Herzfeld P, "Early abortion and breast cancer risk among women under age 40," International Journal of Epidemiology 1989 Jun; 18(2):300-304
6N. Laing A E, Demanais F M, Williams R, Kissling G, Chen V W, Bonney G E, "Breast cancer risk factors in African-American women: the Howard University Tumour Registry experience," Journal of the National Medical Association 1993 Dec;85(12):931939
6O. Laing A E, Bonney G E, Adams-Campbell L et al, "Reproductive and lifestyle factors for breast cancer in African-American women," Genetic Epidemiology 1994;11:285-310, p 300
6P. Andrieu N, Clavel F, Gairard B, Piana L, Bremond A, Lansac J, Flamant R et al, "Familial risk of breast cancer and abortion," Cancer Detection and Prevention, 1994, 18(1):51-55
6Q. Daling J R, Malone K E, Voigt L F, White E, Weiss N S, "Risk of breast cancer among young women: relationship to induced abortion," Journal of the National Cancer Institute, 1994 Nov(2); 86(21):1584-92
6R. Lipworth L, Katsouyanni K, Ekbom A, Michels K B, Trichopoulos D, "Abortion and the risk of Breast Cancer: A case-control study in Greece," International Journal of Cancer 61, 1995, Apr 61(2):181-184
6S. Bu et al, American Journal of Epidemiology, 1995, 141:S85 (abstract)
6T. Newcomb P A, Storer B E, Longnecker M P, Mittendorf R, Greenberg E R and Willett W C, "Pregnancy termination in relation to risk of breast cancer", Journal of American Medical Association, 1996 Jan;275(4):283-7
6U. Rookus M A, Van Leeuwen F E, "Induced abortion and risk of breast cancer: reporting (recall) bias in a Dutch case-control study," Journal of the National Cancer Institute, 1996 Dec4;88(23);1759-1764
6V. Brinton L A, Daling J R, Liff J M, Schoenberg J B, Malone K E, Stanford J L, "Oral contraceptives and breast cancer risk among younger women," Journal of the National Cancer Institute 1995 Jun7;87(11):827-835
6W. Talamini R, Franceschi S, La Vecchia C, Negri E, Borsa L, Montella M et al, "The role of reproductive and menstrual factors in cancer of the breast before and after menopause," European Journal of Cancer 1996, 32A(2):303-310
6X. Melbye M, Wohlfahrt J et al, "Induced abortion and the risk of breast cancer," New England Journal of Medicine 1997, 336:81-85
6Y. Palmer J, Rosenburg L, Rao R, Zauber A, Strom B, Warshauser M et al, "Induced and spontaneous abortion in relation to risk of breast cancer (United States)," Cancer Causes and Control 1997; 8:841-849
6Z. Marcus P M, Baird D D, Millikan R C, Moorman P G, Qaqish B, Newman B, "Adolescent reproductive events and subsequent breast cancer risk," American Journal of Public Health 1999; 89(8):1244-7
6AA. Lazovich D, Thompson J, Mink P, Sellars T, Anderson K, "Induced abortion and breast cancer risk," Epidemiology 2000;11:76-80 – See more at: http://www.prolifeinfo.ie/abortion-effects/women/breast-cancer/#sthash.YSot2t5k.dpuf

 

 

Penelitian Terhadap Aborsi dan Kaitan dengan Kanker Payudara

Dr. M.C. Pike, pada tahun 1981 di University of Southern California, mempublikasikan penelitian ilmiahnya yang pertama yang menunjukkan hubungan langsung antara aborsi yang dipaksakan/ disengaja dengan kanker payudara yang terjadi di kemudian. Beliau meneliti 163 wanita yang mengidap kanker payudara sebelum usia 33 tahun, dan membandingkannya dengan (272 controls). Beliau menunjukkan bahwa jika seorang wanita pernah mengaborsi kehamilannya yang pertama, maka resikonya terkena kanker payudara bertambah menjadi 2,4 kali lipat lebih besar.

Pike MC, Henderson BE, Casagrande JT, Rosario I, Gray CE (1981) Brit. J. Cancer, 43:726

Penelitian lainnya dilakukan oleh H. L. Howe. Penelitiannya dilakukan di bagian Utara New York dengan menggunakan pencatatan statistik resmi yang dikeluarkan oleh New York State Health Department (Department Kesehatan New York). Penelitian ini dinilai sempurna menurut standar epidemiologi dan tidak ada ingatan yang bias dari para responden yang mengisi kuesioner. Data yang dipergunakan adalah (hard data).

Beliau menyelidiki semua wanita di daerah ini yang mengidap kanker payudara sebelum usia 40 tahun, dan memeriksa apakah mereka pernah atau tidak melakukan aborsi. Kesimpulannya adalah bahwa wanita yang pernah mengaborsi kehamilan pertamanya memiliki resiko 1,7 kali lebih besar terhadap kanker payudara. Mereka yang kemudian juga menggugurkan kehamilan kedua dan atau ketiga, memiliki resiko 4 kali lebih besar.

Howe HL, Senie RT, Bzduch H, Herzfeld P (1989) et al., Int. Epidemiol. 18:300

Penelitian lainnya dilakukan di Washington: Beberapa penelitian mengenai masalah ini mendapat perhatian media. Hal ini menjadi perhatian seluruh dunia dan mematahkan larangan yang tengah berlaku mengenai pelaporan tentang hubungan aborsi dan kanker payudara. Janet Daling melakukan penelitian yang sangat profesional sehingga tak dapat diabaikan. Dalam penelitiannya ditemukan:

Sebuah aborsi yang dipaksakan meningkatkan resiko sebanyak 50% bagi wanita untuk mengidap kanker payudara sebelum usia 45. Jika dilakukan sebelum usia 18 tahun, resikonya meningkat menjadi 150%; jika dilakukan setelah usia 30 tahun resikonya menjadi 110%.

  • Seorang wanita, dengan sejarah kanker payudara dalam keluarga, yang melakukan aborsi pertamanya setelah usia 30 tahun meningkatkan resikonya untuk terkena kanker payudara sebanyak 270%
  • Semua dari ke-12 wanita dalam penelitian, dengan sejarah kanker payudara dalam keluarga, yang melakukan aborsi sebelum usia 18 tahun, seluruhnya mengidap kanker payudara sebelum usia 45 tahun.

J. Daling, Risk of Breast Cancer Among Young Women, J. Nat. Ca. Inst., Vol. 86, No. 21, 11/2/94, pg. 1584

(>>>)

 

Penelitian yang dilakukan oleh University of Pennsylvania pada wanita Armenia

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada November 2011 memeriksa resiko kanker payudara, telah menunjukkan keterkaitan antara kanker payudara dan aborsi yang dipaksakan, dan resiko tersebut menjadi hampir tiga kali lipat lebih besar pada wanita yang pernah melakukan aborsi. Penelitian, yang melibatkan 302 wanita Armenia, dilakukan oleh Lilit Khachatryan, disertai oleh beberapa peneliti dari Johns Hopkins School of Public Health dan University of Pennsylvania.

Penelitian, yang dipublikasikan oleh Taylor & Francis

http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/07399332.2011.569041#sthash.YSot2t5k.dpuf

juga menemukan bahwa menunda kehamilan pertama juga meningkatkan resiko kanker payudara, sementara melahirkan dapat mengurangi resiko menjadi 64% lebih rendah.

Tim Khachatran melaporkan resiko kanker payudara secara statistik meningkat signifikan sebanyak 13% untuk setiap 1 tahun penundaan kehamilan pertama, dengan penundaan kehamilan pertama sampai usia 21-30 tahun atau setelah usia 30 tahun masing-masing menyebabkan peningkatan 2,21 kali lipat dan 4,95 kali lipat. Di sisi lain, wanita dengan kehamilan pertama sebelum usia 20 tahun tidak menunjukkan resiko kanker payudara yang dapat diperbandingkan. Mereka menuliskan: “ Setiap kelahiran memiliki fungsi pencegahan (adjusted OR = 0.36, 95% CI 0.20-0.66). Setiap tahun penundaan kehamilan pertama meningkatkan resiko (adjusted OR = 1.13, 95% CI 1.01-1.27) seperti juga halnya dengan aborsi yang dipaksakan (adjusted OR = 2.86, 95% CI 1.02-8.04),”

 

Kanker Payudara yang Berulang

Penelitian ini dilakukan tahun 1983 kepada wanita yang pernah mengidap kanker payudara dan telah mendapatkan pengobatan dan telah bebas kanker. Ownby melakukan penelitian ini secara khusus untuk mengetahui seberapa banyak dari wanita-wanita ini yang mengalami kekambuhan kankernya. Penelitiannya menunjukkan bahwa diantara wanita yang memelihara kehamilan pertamanya sampai masa melahirkan, memiliki 10%  kekambuhan dalam kurun waktu 3 tahun. Sedangkan pada wanita yang menggugurkan kehamilan pertamanya angka kekambuhan menjadi 20%.

Diantara mereka yang juga menggugurkan kehamilan kedua dan atau ketiganya, angka kekambuhan menjadi 30%

H. Ownby, Interrupted Pregnancy Poor Prognosis … in Breast Cancer, 1983 Breast Cancer Res. Treat. 3:339344

 

Keganasan Tumor

Pada tahun 1991, H. Olsson meneliti keganasan, dan kecenderungan untuk menyebar, dari kanker payudara yang telah terdiagnosa. Penelitiannya menunjukkan, jika seorang wanita menggugurkan kehamilan pertamanya dan kemudian mengidap kanker payudara, maka kankernya akan lebih ganas dan lebih cepat mematikan dibandingkan kanker pada wanita yang memelihara kehamilannya sampai masa melahirkan.

Sebuah gen penanda yang terkait dengan kanker payudara, 1NT2, terlihat 18 kali lebih tinggi dari kecepatan pertumbuhan normal diantara mereka yang pernah melakukan aborsi.

H. Olsson et al., Cancer 67:128590

 

Keguguran

Sebelumnya, beberapa orang menduga bahwa keguguran dapat menimbulkan resiko yang sama, namun beberapa penelitian yang dilakukan baru-baru ini telah menunjukkan kadar hormon yang jauh lebih rendah pada wanita yang mengalami keguguran. Diantara penelitian-penelitian tersebut salah satunya dilakukan oleh B. Witt, Tulane Med. Sch. pada tahun 1990; yang lainnya dilakukan di Br. J. OBGyn pada tahun 1976; penelitian lain dilakukan oleh D. Stewart, U dari CA Davis pada tahun 1993; dan juga oleh A. Guilloume di New York City, dan yang paling terkenal dilakukan oleh Janet Daling pada tahun 1994. Semuanya menunjukkan bahwa keguguran tidak berkaitan dengan meningkatnya resiko.

 

Menyusui dapat Mencegah

Sepertinya sangat logis bahwa memang demikian adanya. Jika pematangan payudara lah yang menyebabkan pencegahan, maka menyusui dalam segala aspeknya melengkapi proses pematangan kelenjar susu, maka secara logis menyusui dapat menjadi faktor tambahan untuk pencegahan. Namun, penelitian yang sesuai belum dilakukan untuk ini, oleh karenanya kita belum dapat mengambil sebuah kesimpulan yang pasti.

Namun Newcomb, dalam New England Journal of Medicine edisi Januari 1994, menemukan penurunan resiko kanker pra-menopouse pada para ibu yang pernah menyusui, namun tidak pada wanita pasca-menopouse. Penelitian yang masih dipertentangkan seperti ini, masih belum cukup untuk menarik kesimpulan apapun.

 

Share for life

Support life with sharing to your friends!