DUKA YANG TERLARANG: PRIA DAN ABORSI

(Oleh: Elaine Minamide)

Michael “Chico” Goff adalah seorang pelajar teladan, dan atlit yang berbakat yang sedang merintis jalannya untuk menjadi seorang pe-baseball profesional, ketika ketukan di pintunya di suatu liburan musim panas setelah kelulusan sekolahnya mengubah hidupnya untuk selamanya. Itu adalah pacarnya yang mengetuk pintu, memberitakan kepadanya bahwa ia telah hamil.

Chico melakukan seperti apa yang dilakukan orang kebanyakan yang menghadapi situasi serupa – meyakinkan pacarnya untuk melakukan aborsi. “ Tak satupun dari kami yang mau repot-repot mengasuh anak” jelasnya. “ Namun sayalah yang paling keras mengutarakan hal itu. Maka saya melakukan apa yang saya pikir adalah hal yang paling bertanggung jawab: mengantarnya ke klinik, dan  ia melakukan aborsi itu.”

Tidak sampai musim gugur kemudian akibat dari hal yang dilakukannya itu melanda Chico. “ Jika saat berjalan di lorong swalayan dan mendengar suara bayi menangis, serta-merta aku akan gemetar ketakutan.”  Akhirnya, rasa bersalah dan malu membawa Chico menemui seorang pastor setempat untuk  meminta nasihat, di mana kemudian ia belajar mengenai kerahiman dan pengampunan Tuhan dan menjadi seorang Kristiani.

Seorang pria lainnya dihadapkan pada situasi yang sama ketika seseorang mengetuk pintunya. “Kala itu aku berusia sekitar 24 tahun saat aku memulai suatu hubungan dengan wanita rekan sekerja,” ungkap Don. Ketika Don,  yang kala itu telah bertobat dan kembali pada imannya, mengetahui bahwa pacarnya tersebut  mempertimbangkan untuk mengaborsi bayinya, ia memprotes. “ Saat itu aku masih menjadi seorang sales, dan aku mengerahkan semua jurus sales yang kupelajari untuk membujuknya agar tidak melakukan hal itu.” Don kalah dalam pertarungannya. Meskipun ia menolak untuk membiayai  prosedur tersebut atau bahkan menemani ke klinik, ia setuju untuk menjemput pacarnya tersebut seusainya. Di tengah perjalanannya mengantar pacarnya pulang, keduanya menjadi trauma saat melihat seorang ibu di perhentian bus, menggendong bayi yang baru lahir.

Dalam kedua kasus tersebut, para pria mulanya merasa lega, namun kemudian segera merasakan penyesalan, kesedihan, dan rasa bersalah. Keduanya secara permanen merasa ketakutan.

Mereka inilah yang disebut ayah-ayah yang terlupakan, para pria yang telah direnggutkan dari hak mendasarnya untuk melindungi anak-anaknya yang belum terlahir. Duka mereka tidak dibenarkan oleh masyarakat yang secara berlawanan menuntut pertanggung jawaban dari seorang ayah yang gagal, namun mencerca mereka yang menginginkan anaknya untuk tetap hidup.

 

 

“Aborsi telah mengubah aturan tentang maskulinitas,” kata Dr. Vincent Rue, salah seorang dari Psikolog nasional Amerika yang terkemuka dalam hal masalah pasca aborsi. “Terlibat atau tidaknya seorang pria dalam keputusan aborsi, ketidak mampuannya untuk secara sosial berperan sebagaimana mestinya lah yang membuatnya terluka dan bingung.” Masyarakat tidak akan menaruh iba pada para korban yang selamat dari aborsi secara umum (sindroma pasca aborsi hingga kini masih belum diakui oleh Asosiasi Psikiatris Amerika), dan pria sesungguhnya terabaikan dalam kaitannya dengan aborsi.

Para pria juga sesungguhnya telah ‘dilangkahi’ secara hukum. “ Para pria pada umumnya tidak menyadari hingga saatnya mereka menghadapi masalah kehamilan dan direnggutkan darinya segala jalur hukum untuk melindungi anaknya yang belum terlahir,” kata Wayne Brauning, pendiri Men’s Abortion Recovery Ministries (Pusat Pelayanan Pemulihan Pria Pasca Aborsi) di Coatesville, Pennsylvania.

“Ada perasaan bahwa hal ini bukanlah masalahmu,” kata Chico. “Kau telah menyumbangkan sesuatu dalam prosesnya, namun proses itu sendiri terjadi diluar dirimu.”

Hak aborsi dikemas rapih dengan dua kebohongan: Yang pertama adalah bahwa aborsi adalah masalah kaum perempuan, dan kematian dari yang belum terlahir bukanlah sungguh-sungguh kematian. Dengan penerimaan akan kedua kebohongan tersebut, pria yang telah kehilangan anaknya dalam aborsi telah menghadapi dua pukulan telak kala mereka dihadapkan pada kehilangan yang mereka rasakan. Pukulan ketiga adalah ketika pria mengabaikan proses pemulihannya sendiri untuk menenangkan si wanita, alih-alih mengekspresikan perasaan marah, terluka dan terkhianati yang dirasakannya.

 

 

PRIA PASCA ABORSI DAN GEREJA

Gereja tidaklah kebal terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh aborsi. Warren Williams, pendiri Fathers and Brothers di Boulder, Colorado, mengatakan bahwa peristiwa aborsi yang terjadi di dalam gereja maupun di luar sesungguhnya adalah serupa. Dan akibatnya sangatlah besar. “ Amsal 28:17 mengatakan bahwa manusia yang tersiksa oleh rasa bersalah karena membunuh akan merasa terus dihantui sampai mati,” ujarnya. “ Saat kau terlibat dalam aborsi, kau akan menampakkan kelakuan seperti orang yang dihantui/ dikejar-kejar – berlari, bersembunyi, memungkiri, dan mencoba menutupi. Gereja yang dipenuhi oleh orang-orang  seperti ini adalah gereja yang lemah.”

Apakah yang menghalangi pria dari menghadapi pengalaman aborsinya yang telah lalu? Pertama, pria seringkali tidak menyadari bahwa mereka menderita. Gejala-gejala stress pasca aborsi nampak tidak berhubungan dengan aborsi itu sendiri: ketidakmampuan untuk mempercayai suatu hubungan, kesulitan dalam menjalin kedekatan dengan anak-anak, rasa marah, sikap berani ambil resiko, depresi, rasa ingin bunuh diri, serangan kepanikan, kecanduan dan ketergantungan-ketergantungan. Psikoterapis, Jim Benfield, mengatakan bahwa akan membutuhkan waktu hingga 10 tahun sebelum pria mampu menghubungkan antara kebiasaan/ perilakunya yang tidak sehat dengan aborsi.

Kedua, berbicara mengenai aborsi tidaklah mudah. “Sangatlah sulit bagi saya untuk kembali mengenang tentang aborsi,” ujar Chico. Williams mengatakan bahwa pria bicara mengenai perasaan-perasaannya dengan bebas dalam lingkungan yang aman dan nyaman baginya sebelum mereka melanjutkan.

Ketiga, para pastor seringkali tidak peka/ tidak mengetahui akan adanya kebutuhan untuk mengenali permasalahan ini. Yvonne Wagner, seorang relawan pusat kehamilan, menemukan hal ini saat ia mulai menghubungi  gereja-gereja setempat untuk menawarkan bantuannya sebagai konselor pasca aborsi. Hanya dua dari seratus pastor yang ia hubungi, yang merasa bahwa bantuan yang ditawarkannya dibutuhkan dan penting. Williams menyarankan bagi para pemuka gereja untuk bekerja bersama organisasi seperti  pusat pelayanan kehamilan. Dengan cara inilah, para pastor akan dapat menunjukan jalan yang tepat bagi para pria yang terluka dan meningkatkan kewaspadaan di dalam lingkungan gereja.

 

 

MELANGKAH KELUAR DARI PENYANGKALAN

Agar seorang pria dapat pulih dari luka pasca aborsi yang harus dilakukan adalah:

  • Bergeraklah. Psikoterapis Benefield mengatakan bahwa ini adalah langkah pertama menuju pemulihan.
  • Berdukalah. “ Pria terkondisikan untuk tidak menunjukkan perasaan mereka,” ujar Pete Palmer, yang setelah 25 tahun masih terus merasakan derita akibat aborsi yang dilakukan pacarnya. “ Namun meskipun kita pria, kita harus menangis. Kita tidak akan membuat perkembangan lebih jauh sampai kita dapat berkata, ‘Ya, aku telah kehilangan seseorang yang begitu berharga bagiku.’”
  • Maafkanlah. Membutuhkan waktu dua tahun sebelum Chico mampu benar-benar menerima apa yang telah ia lakukan dan menerima pengampunan Tuhan. Mencari pengampunan Tuhan, dan kemudian belajar untuk mengampuni mereka yang terlibat dalam aborsi sangatlah penting.
  • Berdamailah. Meskipun sebagian besar hubungan berakhir setelah terjadinya aborsi, banyak pria berusaha berdamai dengan mereka yang terlibat. Chico dan Don menghubungi pacar terdahulu mereka dan meminta maaf atas peran yang telah mereka lakukan.
  • Akhirilah. Banyak pria mengakui akan anak yang telah diaborsinya pertama kali dengan memberi nama atau menulis surat padanya. Seorang ayah membeli batu nisan dan meletakannya di pemakaman.

Penerimaan tidaklah datang dengan mudah. Tahun lalu di Hari Ayah contohnya, saat para ayah di gerejanya diminta untuk berdiri agar dapat dikenali, Chico tetap duduk. “ Aku berpikir untuk berdiri,” katanya. “ Aku adalah seorang ayah – anakku dapat saja berusia 13 tahun sekarang ini. Namun aku tidak melakukannya. Aku tak tahu mengapa. Kurasa orang-orang tidak dapat memahami.” Mungkin mereka tidak akan memahami. Namun hingga seorang pria mulai mengakui bahwa aborsi tersebut telah merusak hidupnya dan melakukan sesuatu untuk mengatasinya, maka keluarga, gereja, dan masyarakat akan terus menderita.

Share for life

Support life with sharing to your friends!