Ovula - Woman Fertility, aplikasi mobile untuk memantau pola kesuburan para perempuan. (Dok. Ovula)

Ovula – Woman Fertility, aplikasi mobile untuk memantau pola kesuburan para perempuan. (Dok. Ovula)
Pertanyaan berikut ini khusus diajukan kepada para perempuan. Apakah kamu cukup intens memerhatikan pola kesuburan tubuhmu? Apakah kamu menyadari bila timbul kejanggalan dari pola kesuburanmu?

Perempuan selayaknya memiliki perhatian penuh terhadap kesuburan tubuhnya sendiri. Terutama bagi mereka yang hendak menikah dan memiliki keturunan. Hal ini juga dapat membuat para perempuan lebih mengenali adanya kejanggalan, atau kemungkinan timbulnya penyakit dengan memerhatikan pola kesuburan.

“Saya seorang awam yang akan segera menikah. Salah satu hal yang sangat penting dan menjadi perhatian saya adalah untuk memahami pola kesuburan, yang saya harap dapat saya ketahui lebih dini,” ujar Yuvensia Lidya kepada Hitsss, saat menceritakan kisah pribadinya terkait pola kesuburan perempuan.

Kisah di atas menjadi dasar pemikiran Yuvensia, berkolaborasi dengan dr. Friesca Vienna, membuat sebuah aplikasi mobile untuk mencatat dan mengontrol pola kesuburan perempuan, yaitu Ovula. Memang sudah banyak aplikasi serupa dari luar negeri. Sebut saja beberapa aplikasi yang mudah ditemukan di Play Store dan AppStore, seperti Fertility Friend, Glow, Kindara, Clue, dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan yang lain, Ovula diciptakan khusus bagi perempuan Indonesia. Dilengkapi dengan platform input data yang mudah digunakan, warna platform yang sesuai dengan selera perempuan, dan pendekatan-pendekatan berupa artikel mengenai fertilisasi yang menggunakan bahasa Indonesia, sehingga mudah dimengerti oleh penggunanya.

“Ovula dikembangkan berdasarkan Metode Ovulasi Billings (MOB), suatu metode yang sangat sederhana, dengan mengenal dan mengamati tanda-tanda yang terjadi di dalam tubuh perempuan, sehubungan dengan kesuburannya,” jelas dr. Friesca, Co-Founder Ovula.

MOB sudah terbukti secara klinis, diterima oleh WHO, dan secara khusus diterima di Indonesia sejak tahun 1990. Namun, selama ini MOB dicatat dengan menggunakan kertas.

Di era serba digital ini, hampir semua perempuan menggunakan gadget. Sehingga dengan hadirnya aplikasi mobile Ovula, para peremupuan dapat dengan mudah mencatat pola kesuburan mereka, tanpa perlu kehilangan catatan yang biasanya dilakukan di kertas atau buku. Ditambah lagi, Ovula memiliki fitur pengingat yang dapat diatur kapan waktunya untuk memasukkan data per harinya.

Fitur-fitur ramah terhadap pengguna

Perempuan dapat dengan mudah memerhatikan pola kesuburan mereka, diikuti dengan mudahnya memasukkan data-data yang diperlukan per harinya. Data-data seperti pengamatan di area vulva, hubungan intim, mood kamu, serta gejala-gejala yang timbul, misalnya adanya benjolan di lipatan paha, nyeri perut di bagian bawah, timbulnya jerawat, dan masih banyak lagi.

Kuantitasnya pun dapat ditandai dengan banyaknya bintang di masing-masing gejala. Data-data per hari yang telah dimasukkan akan memperlihatkan pola kesuburan, apakah sedang menstruasi atau bisa jadi itu adalah tanda-tanda kehamilan.

Edukasi yang diberikan Ovula hadir dalam bentuk artikel-artikel, ditujukan untuk pengguna sebagai salah satu pendekatan terhadap target market Ovula, yakni perempuan di usia produktif (25-40 tahun), yang hendak menikah atau akan memiliki anak. “Saat para perempuan menggunakan Ovula, mereka dapat lebih memahami dan mengerti tubuh mereka. Dengan artikel-artikel terkait kesuburan perempuan, pastinya ini menjadi pelengkap bagi kebutuhan perempuan akan informasi mengenai hal tersebut,” tambah dr. Friesca.

Strategi monetisasi Ovula

Ovula dikembangkan para pendiri awalnya untuk tujuan nonprofit. Diutarakan dr. Friesca, ia menargetkan 10 persen pengguna akan memberikan donasi minimal sebesar Rp 50 ribu, dan mereka akan mendapatkan donated version.

Selain itu, mereka akan bekerja sama dengan merek-merek yang mengusung kesehatan dan gaya hidup bagi perempuan. Melalui Ovula, para perempuan juga dapat memperoleh pengetahuan lebih mengenai MOB dengan mengikuti kursus tentang MOB. “Kami memperhitungkan setidaknya 1 persen dari pengguna akan berkeinginan untuk mempelejajari MOB lebih lanjut melalui kursus tersebut,” ungkap dr. Friesca lagi.

Strategi pemasaran online dan offline pun akan ditempuh Ovula untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Kerja sama dengan berbagai pelayanan kesehatan, pusat kesehatan, penelitiaan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), kebijakan publik, dan asosiasi kedokteran adalah beberapa tujuan pemasaran offline Ovula.

Ditanya perihal data yang telah dimasukkan oleh pengguna, para pendiri mengungkapkan, bahwa big data tersebut akan digunakan sebagai analisis statistik MOB, guna memahami segala hal yang berhubungan dengan kesuburan perempuan. Setidaknya diperlukan minimal tiga bulan untuk dapat menganalisis keselurahan data-data yang telah masuk di Ovula.

Meski merasa kesulitan dalam menjangkau pasar di Indonesia, Yuvensia mengatakan, bahwa Ovula berusaha melakukan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan atau merek-merek yang memiliki perhatian khusus terhadap pola kesuburan, seperti visi yang dibawa Ovula. Diakuinya, belum ada keterlibatan investor terhadap startup yang baru berusia dua bulan ini, Ovula memerlukan pendanaan sebesar 150 ribu dolar Amerika, untuk pengembangan iOS, dana operasional, serta biaya akuisisi.

“Ovula dapat menjadi kekuatan bagi perempuan Indonesia untuk semakin mengenal, memahami, dan mencintai dirinya sebagai perempuan,” ungkap dr. Friesca mengakhiri wawancaranya dengan Hitsss. (KA)

Sumber:
http://hitsss.com/dengan-ovula-perempuan-diarahkan-lebih-memahami-pola-kesuburannya/

Share for life

Support life with sharing to your friends!