Dahulukan Etika, Imam Memperingatkan Para Dokter Katolik

Dokter Indonesia mengatakan teknologi mutakhir tidak seharusnya mengancam nyawa, hak dari anak-anak yang belum terlahir

1468829681
RP CB Kusmaryanto, SCJ mengingatkan para dokter Katolik untuk menghindari praktik yang dapat mengakhiri hidup bayi yang belum terlahir dalam sebuah seminar di Jakarta pada tanggal 16 Juli.

Ahli teologi moral dan bioetika, RP CB Kusmaryanto, SCJ, yang akrab dipanggil Romo Kus, mengingatkan para dokter Katolik untuk menjunjung nilai-nilai etika profesi mereka dan menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang membahaya hidup manusia, secara khusus anak-anak yang belum terlahir dan masih berada di dalam kandungan.

“Prinsip yang paling penting adalah untuk mempertahankan kehidupan,” ujar Romo Kus, menujukannya kepada para dokter peserta seminar medik dan etika biomedik di Jakarta, 16 Juli 2016. “Ini adalah ajaran Gereja Katolik.”

Seminar yang bertajuk “Respect the Unborn: Challenges for Catholic Doctors in the Modern Technological Era” diselenggarakan oleh Komisi Kesehatan Keuskupan Agung Jakarta bekerja sama dengan Komunitas Medik Katolik Indonesia (KMKI) Keuskupan Agung Jakarta, dan membahas berbagai isu moral terkait permulaan kehidupan manusia, termasuk teknologi reproduksi berbantu—salah satu teknologi dikenal sebagai bayi tabung, skrining prenatal, sel punca, dan aborsi.

Romo Kus—dosen teologi moral di universitas Katolik Sanata Dharma di Yogyakarta—mengakui bahwa tantangan terbesar untuk tenaga medis adalah untuk menjaga keutuhan martabat manusia dan melindungi manusia dari praktik-praktik yang tidak berperikemanusiaan dalam teknologi yang mengakhiri kehidupan. Gereja Katolik percaya bahwa hidup manusia dimulai saat pembuahan. “Tindakan medis yang menghancurkan kehidupan janin tidak dapat dibenarkan,” kata beliau.

Gereja juga tidak membenarkan praktik aborsi pada kasus anak yang dikandung akibat perkosaan. Uskup merujuk kepada kata-kata yang diberikan oleh almarhum Paus Yohanes Paulus II yang mengatakan bahwa seorang anak tidak seharusnya membayar harga akibat dosa yang menyebabkan ia dikandung.

Pada kasus pasangan yang tidak dapat mengurus anak-anak mereka, Gereja menyarankan opsi adopsi, penjelasan Romo Kus.

“Anak merupakan anugerah dari Allah dan harus diterima dengan rasa syukur,” katanya.

Eva Roria Silalahi, seorang dokter kebidanan dan kandungan, mengatakan bahwa dokter menghadapi dilema. Seturut diagnosis prenatal, ia seringkali menghadapi kesulitan ketika janin memiliki abnormalitas. “Kadang-kadang keluarga meminta untuk mengaborsi janin, yang bertentangan dengan iman kami,” ujarnya.

“Di sisi lain, ada permintaan, dan di sisi lain hal tersebut bertentangan dengan ajaran religius,” katanya.

Sementara itu, Friesca Vienna Saputra dari Youth Mission for Life, sebuah kelompok prolife, mengatakan bahwa pertanyaan moral seputar hidup janin ini rumit. Pendampingan dan kampanye dari Gereja Katolik secara terus menerus tetap dibutuhkan di tengah peningkatan kasus aborsi, dengan perkiraan sekitar 2,4 hingga 2,6 juta per tahun di Indonesia.

“Setiap satu menit diperkirakan ada 5 kasus aborsi terjadi di Indonesia,” katanya kepada ucanews.com dan hal ini terjadi bukan hanya pada pasangan yang tidak menikah, tetapi juga pada pasangan menikah yang tidak lagi menginginkan anak, atau karena kegagalan kontrasepsi.

“Kesadaran, pengetahuan, dan seminar mengenai kehidupan amat penting,” katanya.

Dialihbahasakan dengan perubahan seperlunya, seturut izin dari: ucanews.com

13692722_1783216385288194_4408529603514839974_n

Share for life

Support life with sharing to your friends!